Rabu, 04 Agustus 2010

Asuhan Sayang Ibu

Asuhan Sayang Ibu Sebagai Kebutuhan Dasar Persalinan

Persalinan adalah proses yang fisiologis dan merupakan kejadian yang menakjubkan bagi seorang ibu dan keluarga. Penatalaksanaan yang terampil dan handal dari bidan serta dukungan yang terus-menerus dengan menghasilkan persalinan yang sehat dan memuaskan  dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan.
Sebagai bidan, ibu akan mengandalkan pengetahuan, keterampilan dan pengambilan keputusan dari apa yang dilakukan.
Hal ini dimaksudkan untuk :
1.      Mendukung ibu dan keluarga baik secara fisik dan emosional selama persalinan dan kelahiran.
  1. Mencegah membuat diagnosa yang tidak tepat, deteksi dini dan penanganan komplikasi selama persalinan dan kelahiran.
  2. Merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap bila terdeteksi komplikasi.
  3. Memberikan asuhan yang akurat dengan meminimalkan intervensi.
  4. Pencegahan infeksi yang aman untuk memperkecil resiko.
  5. Pemberitahuan kepada ibu dan keluarga bila akan dilakukan tindakan dan terjadi penyulit.
  6. Memberikan asuhan bayi baru lahir secara tepat.
  7. Pemberian ASI sedini mungkin.
Kebutuhan dasar selama persalinan tidak terlepas dengan asuhan yang diberikan bidan. Asuhan kebidanan yang diberikan, hendaknya asuhan yang sayang ibu dan bayi. Asuhan yang sayang ibu ini akan memberikan perasaan aman dan nyaman selama persalinan dan kelahiran.



Konsep Asuhan Sayang Ibu
Konsep asuhan sayang ibu menurut Pusdiknakes, 2003 adalah sebagai berikut:
  1. Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan kelangsungan hidup ibu. Pemberian asuhan harus saling menghargai budaya, kepercayaan, menjaga privasi, memenuhi kebutuhan dan keinginan ibu.
  2. Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses persalinan, menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga dalam pengambilan keputusan.
  3. Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa adanya komplikasi.
  4. Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugas kesehatan.
  5. Asuhan sayang ibu menjamin ibu dan keluarganya dengan memberitahu tentang apa yang terjadi dan apa yang bisa diharapkan.
Badan Coalition Of Improving Maternity Services (CIMS) melahirkan Safe Motherhood Intiative pada tahun 1987. CIMS merumuskan sepuluh langkah asuhan sayang ibu sebagai berikut:
(1) Menawarkan adanya pendampingan saat melahirkan untuk mendapatkan dukungan emosional dan fisik secara berkesinambungan.
(2) Memberi informasi mengenai praktek kebidanan, termasuk intervensi dan hasil asuhan.
(3) Memberi asuhan yang peka dan responsif dengan kepercayaan, nilai dan adat istiadat.
(4) Memberikan kebebasan bagi ibu yang akan bersalin untuk memilih posisi persalinan yang nyaman bagi ibu.
(5) Merumuskan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk pemberian asuhan yang berkesinambungan.
(6) Tidak rutin menggunakan praktek dan prosedur yang tidak didukung oleh penelitian ilmiah tentang manfaatnya, seperti: pencukuran, enema, pemberian cairan intervena, menunda kebutuhan gizi, merobek selaput ketuban, pemantauan janin secara elektronik.
(7) Mengajarkan pada pemberi asuhan dalam metode meringankan rasa nyeri dengan/ tanpa obat-obatan.
(8) Mendorong semua ibu untuk memberi ASI dan mengasuh bayinya secara mandiri.
(9) Menganjurkan tidak menyunat bayi baru lahir jika bukan karena kewajiban agama.
(10) Berupaya untuk mempromosikan pemberian ASI dengan baik.

Prinsip Umum Sayang Ibu
Prinsip-prinsip sayang ibu adalah sebagai berikut:
(1) Memahami bahwa kelahiran merupakan proses alami dan fisiologis.
(2) Menggunakan cara-cara yang sederhana dan tidak melakukan intervensi tanpa ada indikasi.
(3) Memberikan rasa aman, berdasarkan fakta dan memberi kontribusi pada keselamatan jiwa ibu.
(4) Asuhan yang diberikan berpusat pada ibu.
 (5) Menjaga privasi serta kerahasiaan ibu.
(6) Membantu ibu agar merasa aman, nyaman dan didukung secara emosional.
(7) Memastikan ibu mendapat informasi, penjelasan dan konseling yang cukup.
(8) Mendukung ibu dan keluarga untuk berperan aktif dalam pengambilan keputusan.
(9) Menghormati praktek-praktek adat dan keyakinan agama.
(10) Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan sosial ibu/ keluarganya selama kehamilan, persalinan dan nifas.
(11) Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Asuhan Sayang Ibu Selama Persalinan
Menurut Pusdiknakes (2003), upaya penerapan asuhan sayang ibu selama proses persalinan meliputi kegiatan:
(1) Memanggil ibu sesuai nama panggilan sehingga akan ada perasaan dekat dengan bidan.
(2) Meminta ijin dan menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan bidan dalam pemberian asuhan.
(3) Bidan memberikan penjelasan tentang gambaran proses persalinan yang akan dihadapi ibu dan keluarga.
(4) Memberikan informasi dan menjawab pertanyaan dari ibu dan keluarga sehubungan dengan proses persalinan.
(5) Mendengarkan dan menanggapi keluhan ibu dan keluarga selama proses persalinan.
(6) Menyiapkan rencana rujukan atau kolaborasi dengan dokter spesialis apabila terjadi kegawatdaruratan kebidanan.
(7) Memberikan dukungan mental, memberikan rasa percaya diri kepada ibu, serta berusaha memberi rasa nyaman dan aman.
(8) Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik meliputi sarana dan prasarana pertolongan persalinan.
(9) Menganjurkan suami dan keluarga untuk mendampingi ibu selama proses persalinan.
(10) Membimbing suami dan keluarga tentang cara memperhatikan dan mendukung ibu selama proses persalinan dan kelahiran bayi, seperti: memberikan makan dan minum, memijit punggung ibu, membantu mengganti posisi ibu, membimbing relaksasi dan mengingatkan untuk berdoa.
(11) Bidan melakukan tindakan pencegahan infeksi.
(12) Menghargai privasi ibu dengan menjaga semua kerahasiaan.
(13) Membimbing dan menganjurkan ibu untuk mencoba posisi selama persalinan yang nyaman dan aman.
(14) Menganjurkan ibu untuk makan dan minum saat tidak kontraksi.
(15) Menghargai dan memperbolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak merugikan.
(16) Menghindari tindakan yang berlebihan dan membahayakan.
(17) Memberi kesempatan ibu untuk memeluk bayi segera setelah lahir dalam waktu 1 jam setelah persalinan.
(18) Membantu ibu memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah kelahiran bayi dengan membimbing ibu membersihkan payudara, posisi menyusui yang benar dan penyuluhan tentang manfaat ASI.

Penerapan Asuhan Sayang Ibu Dalam Tahapan Persalinan

Asuhan sayang ibu membantu ibu dan keluarganya untuk merasa aman dan nyaman selama proses persalinan.
Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu (Depkes, 2004). Cara yang paling mudah untuk membayangkan asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri, “Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “Apakah asuhan seperti ini, yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?”

Kala I
Kala I adalah suatu kala dimana dimulai dari timbulnya his sampai pembukaan lengkap. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
  1. Memberikan dukungan emosional.
  2. Pendampingan anggota keluarga selama proses persalinan sampai kelahiran bayinya.
  3. Menghargai keinginan ibu untuk memilih pendamping selama persalinan.
  4. Peran aktif anggota keluarga selama persalinan dengan cara : (a) Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan memuji ibu. (b) Membantu ibu bernafas dengan benar saat kontraksi. (c) Melakukan massage pada tubuh ibu dengan lembut. (d) Menyeka wajah ibu dengan lembut menggunakan kain. (e) Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
  5. Mengatur posisi ibu sehingga terasa nyaman.
  6. Memberikan cairan nutrisi dan hidrasi – Memberikan kecukupan energi dan mencegah dehidrasi. Oleh karena dehidrasi menyebabkan kontraksi tidak teratur dan kurang efektif.
  7. Memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi secara teratur dan spontan – Kandung kemih penuh menyebabkan gangguan kemajuan persalinan dan menghambat turunnya kepala; menyebabkan ibu tidak nyaman; meningkatkan resiko perdarahan pasca persalinan; mengganggu penatalaksanaan distosia bahu; meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.
  8. Pencegahan infeksi – Tujuan dari pencegahan infeksi adalah untuk mewujudkan persalinan yang bersih dan aman bagi ibu dan bayi; menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi baru lahir.

Kala II
Kala II adalah kala dimana dimulai dari pembukaan lengkap serviks sampai keluarnya bayi.
Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
  1. Pendampingan ibu selama proses persalinan sampai kelahiran bayinya oleh suami dan anggota keluarga yang lain.
  2. Keterlibatan anggota keluarga dalam memberikan asuhan antara lain : (a) Membantu ibu untuk berganti posisi. (b) Melakukan rangsangan taktil. (c) Memberikan makanan dan minuman. (d) Menjadi teman bicara/ pendengar yang baik. (e) Memberikan dukungan dan semangat selama persalinan sampai kelahiran bayinya.
  3. Keterlibatan penolong persalinan selama proses persalinan & kelahiran – dengan cara : (a) Memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan keluarga. (b) Menjelaskan tahapan dan kemajuan persalinan. (c) Melakukan pendampingan selama proses persalinan dan kelahiran.
  4. Membuat hati ibu merasa tenteram selama kala II persalinan – dengan cara memberikan bimbingan dan menawarkan bantuan kepada ibu.
  5. Menganjurkan ibu meneran bila ada dorongan kuat dan spontan umtuk meneran – dengan cara memberikan kesempatan istirahat sewaktu tidak ada his.
  6. Mencukupi asupan makan dan minum selama kala II.
  7. Memberika rasa aman dan nyaman dengan cara : (a) Mengurangi perasaan tegang. (b) Membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayi. (c) Memberikan penjelasan tentang cara dan tujuan setiap tindakan penolong. (d) Menjawab pertanyaan ibu. (e) Menjelaskan apa yang dialami ibu dan bayinya. (f) Memberitahu hasil pemeriksaan.
  8. Pencegahan infeksi pada kala II dengan membersihkan vulva dan perineum ibu.
  9. Membantu ibu mengosongkan kandung kemih secara spontan.


Kala III
Kala III adalah kala dimana dimulai dari keluarnya bayi sampai plasenta lahir.
Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
  1. Memberikan kesempatan kepada ibu untuk memeluk bayinya dan menyusui segera.
  2. Memberitahu setiap tindakan yang akan dilakukan.
  3. Pencegahan infeksi pada kala III.
  4. Memantau keadaan ibu (tanda vital, kontraksi, perdarahan).
  5. Melakukan kolaborasi/ rujukan bila terjadi kegawatdaruratan.
  6. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
  7. Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III.

Kala IV
Kala IV adalah kala dimana 1-2 jam setelah lahirnya plasenta.
Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
  1. Memastikan tanda vital, kontraksi uterus, perdarahan dalam keadaan normal.
  2. Membantu ibu untuk berkemih.
  3. Mengajarkan ibu dan keluarganya tentang cara menilai kontraksi dan melakukan massase uterus.
  4. Menyelesaikan asuhan awal bagi bayi baru lahir.
  5. Mengajarkan ibu dan keluarganya ttg tanda-tanda bahaya post partum seperti perdarahan, demam, bau busuk dari vagina, pusing, lemas, penyulit dalam menyusui bayinya dan terjadi kontraksi hebat.
  6. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
  7. Pendampingan pada ibu selama kala IV.
  8. Nutrisi dan dukungan emosional.


posisi meneran
tenaga kesehatan/bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan dalam posisi yang dipilihnya dan bukan posisi terlentang atau litotomi
  • posisi terlentang bisa menyebabkan hipotensi karena bobot uterus dan isinya akan menekan aorta, vena kava inferior serta pembuluh2 lain dari sistem vena tersebut. hipotensi ini bisa menyebabkan ibu pingsan dan seterusnya bisa mengarah ke anoreksia janin
  • posisi litotomi bisa menyebabkan kerusakan pada syaraf di kaki dan di punggung dan akan ada rasa sakit yang lebih banyak di daerah punggung pada masa postpartum(nifas)
  • posisi berjongkok, menggunakan gaya gravitasi untuk membantu turunnya bayi serta dapat melebarkan rongga panggul
  • posisi duduk, memanfaatkan gaya gravitasi untuk membantu turunnya bayi, serta memberi kesempatan bagi ibu untuk istirahat diantara kontraksi
  • posisi berlutut, dapat mengurangi rasa sakit serta membantu bayio dalam mengadakan rotasi posisi yang diharapkan (ubun-ubun kecil depan) dan juga untuk mengurangi keluhan haemoroid
  • posisi berjongkok atau berdiri, dapat memudahkan dalam pengosongan kandung kemih. kandung kemih yang penuh akan dapat memperlambat penurunan bagian bawah janin.
  • posisi berjalan, berdiri dan bersandar. efektif dalam membantu stimulasi kontraksi uterus serta dapat memanfaatkan gaya gravitasi.
  • dengan kebebasan untuk memutuskan posisi yang dipilhnya, ibu akan lebih merasa aman. karena fokus utama kita adalah berpusdat kepada kenyamanan klien(ibu) bukan nakes.




POSISI IBU SAAT MENERAN
  • Bantu ibu utk memperoleh posisi yg paling nyaman baginya
  • Ibu dapat berganti posisi secara teratur selama kala dua persalinan karena hal ini sering mempercepat kemajuan persalinan
  • Posisi duduk (Gambar 3-1) atau setengah duduk sering nyaman bagi ibu dan ia bisa beristirahat dgn mudah di anatra kontraksi jika merasa lelah, keuntungannya memudahkan melahirkan kepala bayi





( Gambar 3-1) Posisi duduk atau setengah duduk



Jongkok atau berdiri (Gambar 3-2) dapat membantu mempercepat kemajuan kala dua persalinan dan mengurangi rasanyeri yg hebat






  • Merangkak atau berbaring miring ke kiri (Gbr 3-3) bisa lebih nyaman dan lebih efektif baginya untuk meneran


Cara Meneran
  • Anjurkan ibu utk meneran sesuai dgn dorongan alamiahnya selama kontraksi
  • Jangan anjurkan utk menahan nafas pd saat meneran
  • Anjurkan ibu utk berhenti meneran dan beristirahat di antara kontraksi
  • Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ibu mungkin merasa lebih mudah utk meneran jika ia menarik lutut ke arah dada dan menempelkan dagu ke dada
  • Anjurkan ibu utk tdk mengangkat bokong saat meneran
  • Jangan melakukan dorongan pd fundus utk membantu kelahiran bayi



POSISI MENYUSUI YANG BENAR

POSISI MENYUSUI YANG BENAR
Berikut langkah langkah menyusui yang benar yang terbagi menjadi 5 bagian :
1. Persiapan mental dan fisik. Ibu yang akan menyusui harus dalam keadaan tenang, tidak tergesa gesa atau takut dan malu payudaranya yang indah nongol ke permukaan. Tentu untuk memperoleh suasana ini, perlu dicari lokasi menyusui yang pas dan terjaga privasinya sehingga terhindar dari tontonan orang. Minum segelas air sebelum menyusui merupakan salah satu cara untuk membuat sang ibu merasa tenang. Hindari menyusui dalam keadaan haus dan lapar.
2 Persiapan tempat dan alat. Sebelum menyusui perlu dicari tempat duduk/kursi yang nyaman dengan siburan punggung dan tangan serta bantalan untuk menopang tangan yang menggendong bayi.
3. Sebelum menggendong bayi, tangan dicuci sampai benar benar bersih untuk menghindari ASI terkontaminasi oleh kuman. Lalu sebelum menyusui, tekan daerah sekitar puting susu diantara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2 – 3 tetes ASI, kemudian oleskan ke seluruh bagian puting susu. Cara menyusui yang baik adalah bila ibu melepaskan kedua payudaranya dari pemakaian BH.
4. Susukan bayi sesuai dengan kebutuhan, jangan dijadual. Biasanya kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2 – 3 jam. Setiap menyusui, lakukan pada kedua payudara secara bergantian masing masing selama kurang lebih 10 menit. Mulai selalu dengan payudara sisi yang terakhir disusui sebelumnya. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong.
5. Setelah selesai, oleskan ASI seperti awal menyusui dan biarkan kering oleh udara sebelum memakai BH untuk mencegah lecet. Hal ini dapat dilakukan sambil menyangga bayi agar bersendawa. Menyendawakan bayi setelah menyusui harus selalu dilakukan untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah.


Teknik Menyusui Yang Benar

Pengertian Teknik Menyusui Yang Benar
Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Pembentukan dan Persiapan ASI
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi.
Posisi dan perlekatan menyusui
Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.
Gambar 1. Posisi menyusui sambil berdiri yang benar (Perinasia, 1994)
Gambar 2. Posisi menyusui sambil duduk yang benar (Perinasia, 1994)
Gambar 3. Posisi menyusui sambil rebahan yang benar (Perinasia, 1994)
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan  posisi kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti memegang bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.
Gambar 4. Posisi menyusui balita pada kondisi normal (Perinasia, 1994)
Gambar 5. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di ruang perawatan (Perinasia, 2004)
Gambar 6. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah (Perinasia, 2004)
Gambar 7. Posisi menyusui bayi bila ASI penuh (Perinasia, 2004)
Gambar 8. Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan (Perinasia, 2004)
Langkah-langkah menyusui yang benar
Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai.
Gambar 9. Cara meletakan bayi (Perinasia, 2004)
Gambar 10. Cara memegang payudara (Perinasia, 2004)
Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.

Gambar 11. Cara merangsang mulut bayi (Perinasia, 2004)
Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.
Gambar 12. Perlekatan benar (Perinasia, 2004)
Gambar 13. Perlekatan salah (Perinasia, 2004)
Cara pengamatan teknik menyusui yang benar
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tibu-tibu sebagai berikut :
  1. Bayi tampak tenang.
  2. Badan bayi menempel pada perut ibu.
  3. Mulut bayi terbuka lebar.
  4. Dagu bayi menmpel pada payudara ibu.
  5. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk.
  6. Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
  7. Puting susu tidak terasa nyeri.
  8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
  9. Kepala bayi agak menengadah.
Gambar 14. Teknik menyusui yang benar (Perinasia, 2004)
Lama dan frekuensi menyusui
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara. Pesankan kepada ibu agar berusaha menyusui sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. Setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan kutang (BH) yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.
Gambar 15. Kutang (BH) yang baik untuk ibu menyusui (Perinasia, 2004)

POSISI MENYUSUI PADA BAYI KEMBAR
Bayi kembar. Football position juga tepat untuk bayi kembar. Caranya: peluk masing-masing satu kepala bayi dengan kedua tangan, seperti memegang bola. Letakkan tepat di bawah payudara. Posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar. Untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang. Dengan demikian cukup menopang kepala kedua bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal di atas pangkuan.

Kita boleh menyusui kedua bayi kembar Ibu secara bersamaan atau terpisah (bergantian), tergantung pada ‘permintaan’ si kembar .  Masing-masing mempunyai segi positifnya.
Jika menyusui bayi kembar secara bergantian, ini akan memberi kesempatan Ibu dan bayi untuk saling mengenal sehingga ikatan Ibu dengannya menguat.  Namun, jika Ibu menyusui bayi kembar secara bersamaan, maka ritme ‘hidup’ mereka pun akan lebih seragam.  Artinya, jika salah satu bayi buang air besar (BAB) maka secara berbarengan saudara kembarnya juga BAB.  Dengan begitu, waktu bebas Ibu makin besar.

Lalu, apa saja tips untuk menyusui si kembar secara berbarengan?
1.      Jangan panik.
2.      Sediakan dua buah bantal untuk menahan dan mengalasi tubuh si kembar.
3.      Akan lebih baik jika salah seorang baby sitter membantu mendekap salah seorang bayi sehingga lebih aman dan nyaman untuk si kecil.
4.      Football Hold. Susui bayi A pada payudara kanan sementara tubuh dan kakinya mengarah ke bawah ketiak kanan Ibu.  Susui bayi B pada payudara kiri sementara tubuh dan kakinya mengarah ke bawah ketiak kiri Ibu.  Dekaplah mereka masing-masing dengan tangan kanan Ibu memegangi kepala bayi A dan tangan kiri Ibu menahan bantal yang mengalasi kepala dan tubuh bayi B
5.      Combination Hold. Susui bayi A pada payudara kanan, dengan tubuh dan kakinya mengarah ke kanan.  Sementara bayi B Ibu susui pada payudara kiri dengan posisi tubuh dan kakinya mengarah ke kanan pula.  Dekaplah bayi A dengan tangan kanan Ibu.  Dan tangan kiri Ibu menahan kepala bayi B hingga bokongnya dengan bantuan sebuah bantal pada belakang siku kiri Ibu.
6.      Cradle Hold. Susui bayi A pada payudara kanan sementara tubuh dan kakinya mengarah ke kiri.  Bayi B menyusui pada payudara kiri, tubuh dan kakinya mengarah ke kanan.  Biarkan tubuh bayi B ‘di bawah ‘ tubuh bayi A, namun jangan terlalu ketat

Posisi Menyusui Yang Baik

Menyusui
Menyusui
Susu adalah hak setiap bayi dan seorang ibu tidak seharusnya mementingkan diri sendiri ketika bayi memerlukan ASI (air susu ibu). Dan untuk mengetahui posisi yang baik untuk bayi maupun ibu yang sedang menyusui silahkan baca tulisan berikut ini.
Sentuh bibir bayi dengan ujung puting hingga bayi membuka mulutnya. Biarkan dia membuka selebarnya mulutnya hingga sampai bagian besar areola (bagian berwarna coklat). Gerakan rahang dan bunyi tegukan memastikan bayi menyusui dalam posisi yang betul. Selepas menyusui, masukkan hujung jari kelingking ibu di hujung mulut bayi untuk menghentikan hisapan.
Refleks ‘let-down’
Refleks ‘let-down’ adalah rasa berdenyut yang menibukan aliran hangat susu dan bayi berada pada posisi penyusuan yang betul. Jika ibu tidak mengalami rasa ini, mungkin disebabkan oleh gangguan, tidak ada ruang untuk privacy/pribadi, rasa malu atau rasa cemas mengenai menyusui bayi, letih atau sakit.
Beralih payudara
Jika bisa, berikan bayi menyusui dari kedua payudara setiap kali menyusui. Alihkan bayi pada satu payudara sehingga dia berhenti menghisap. Angkat bayi, sendawakannya dan alihkannya ke payudara sebelah dan teruskan menyusui sehingga dia merasa kenyang. Untuk menyusui yang berikutnya, dimulai dari payudara yang terasa sarat dengan susu.
Sendawakan Bayi
Sendawakan bayi setiap kali selesai menyusui. Bayi mungkin termuntah susu, jadi pastikan ibu menyediakan kain/handuk. Jika dia tidak sendawa selepas 30 detik, dia mungkin tidak perlu disendawakan. Letakkan bayi di bahu ibu dan gosok atau tepuk perlahan belakang badannya.
Pilih posisi yang nyaman
Dapatkan posisi yang membuat ibu dan bayi ibu merasa nyaman. Tubuh bayi haruslah rapat dengan ibu dan muka bayi bertemu dengan payudara ibu. Mulutnya harus berhampiran dengan puting dan kepala, leher dan belakangnya sepatutnya dalam keadaan lurus. Belakang badan ibu juga perlu tegak, jangan membungkuk. Gunakan bantal untuk bersibur, jika perlu.
Posisi dakapan, posisi klasik dan telah menjadi kegemaran kebanyakan para ibu. Posisi ini membolehkan perut bayi dan perut ibu bertemu supaya ibu tidak perlu memutar kepalanya untuk menyusu. Kepala bayi berada di dalam dekapan ibu, sokong belakang badan dan punggung bayi serta lengan bayi perlu berada di bagian sisinya.
Posisi ‘football hold’, posisi ini sangat sesuai jika ibu baru pulih dari pembedahan ‘cesarean’, memiliki payudara yang besar, menyusui bayi premature atau bayi yang kecil ukurannya atau menyusui anak kembar pada waktu yang bersamaan. Sokong kepala bayi dengan tangan, gunakan bantal untuk menyokong belakang badan ibu.
Posisi berbaring, coba posisi ini apabila ibu dan bayi merasa letih. Jika ibu baru pulih dari pembedahan ‘Cesarean’ ini mungkin satu-satunya posisi yang bisa ibu coba pada beberapa hari pertama. Sokong kepala ibu dengan lengan dan sokong bayi ibu dengan lengan atas.
 

Selasa, 03 Agustus 2010

PENYAKIT-PENYAKIT DALAM MASA NEONATAL
A.    INFEKSI PADA NEONATUS
Infeksi pada neonatus di negeri kita masih merupakan masalah yang gawat, Hal ini tidak mengherankan karena rumah sakit ini merupakan rujukan untuk Jakarta dan sekitarnya.
Infeksi pada noenatus lebih sering ditemukan pada bayi berat-badan-lahir rendah. Infeksi itu lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit daripada yang lahir di luar rumah sakit. Bayi baru lahir mendapat imunitas transplasenter terhadap kuman-kuman yang berasal dari ibunya . bayi yang lahir dirumah sakit didekatkan pada kuman-kuman yang bukan saja berasal dari ibunya sendiri, melainkan juga bersal dari ibu-ibu lain. Terhadap kuman-kuman yang terakhir ini bayi tidak mempunyai imunitas.

Patogenesis
Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Blanc (1961) membaginya dalam 3 golongan, yaitu infeksi intranatal, dan infeksi postnatal.

Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin melalui peredaran darah ibu ke plasenta. Disini kuman ini meliwati batas plasenta dan mengadakan intervillositis. Salanjutnya, infeksi melalui vena umbilikasi masuk kejanin. Kuman yang dapat memasuki janin melalui jalan ini ialah:
a)      Virus: rubella,poliomielitis, koksakie, variola, vaksinia, sitomegalovirus;
b)      Spirokaeta: sifilis;
c)      Bakteria: jarang sekali meliwati plasenta, kecuali escherichia coli dan listeria monocytogenes.

Infeksi intranatal
Infeksi melalui cara ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain. Human dari vagina naik dan masuk kedalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Ketuban pecah lama mempunyai peranan penting dalam timbulnya klasintetis dan amnionitis. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh, misalnya pada partus lama dan sering kali dilakukan pemeriksaan vagina. Janin kena infeksi karena menginhalasi likour yang septik, sehingga terjadi pnemonia konginetal atau karena kuman-kuman memasuki peredaran darahnya dan menyebabkan  septikimia. Infeksi intranatal dapat juga terjadi dengan jalan kontak langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina, misalnya blenorea dan oral thrush.

Infeksi postnatal      
Infeksi ini terjadi sesudah bayi lahir lengkap dan biasanya merupakan infeksi yang diperoleh (acquired infection). Sebagian besar infeksi yang menyebabakan kematian terjadi sesudah bayi lahir sebagai akibat penggunaan alat, atau perawatan yang tidak steril, atau karena cross-infection. Infeksi postnatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting sekali karena mortalitas infeksi postnatal sangat tinggi. Seringkali bayi lahir di rumah sakit terkena infeksi dengan kuman-kuman yang sudah tahan terhadap banyak jenis antibiotika, sehingga menyulitkan pengobatannya.

Diagnosis
Diagnosis infeksi pada neonatus sangat penting untuk kepentingan bayi itu sendiri, tetapi lebih penting lagi untuk kamar bersalinnya dan untuk tempat perawatannya (Kamar bayi = norsery). Diagnosis infeksi ini memang tidak mudah karena tanda khas seperti yang terdapat pada bayi yang lebih tua sering kali tidak ditemukan. Biasanya diagnosis dapat dibuat dengan pengamatan yang cermat, anmnesis kehamilan dan partus yang teliti, dan akhirnya dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Seringkali diagnosis didahului oleh persangkaan infeksi, kemudian berdasarkan persangkaan itu diagnosis dapat ditetapkan dengan pemeriksaan selanjutnya.
Infeksi pada bayi cepat sekali meluas menjadi infeksi umum, sehingga gejala-gejala infeksi lokal tidak menonjol lagi. Walaupun demikian, diagnosis dini dapat dibuat kalau kita cukup waspada bahwa kelainan tingkah laku bayi dapat merupakan tanda-tanda permulaan infeksi umum. Kalau bayi, terutama bayi BBLR (Berat-badan-lahir-rendah=low birth wight), selama 72 jam pertaa tidak menunjukan gejala-gejala penyakit tertentu, tiba-tiba tingkah lakunya berubah, maka mungkin sekali hal itu disebabkan oleh infeksi.
Tanda infeksi pada bayi biasanya tidak khas seperti yang terdapat pada bayi yang lebih tua atau pada orang dewasa. Dapat disebut beberapa gejala, yaitu : malas minum, gelisah, frekuensi pernafasan meningkat, berat badan tiba-tiba turun, pergerakan kurang, dan diarea. Selain itu dapat terjadi edema, purpura, ekterus, hepatosplenomegalia, dan kejang. Suhu dapat meningkat, normal, atau dapat kurang dari pada normal. Pada bayi BBLR sering kali terdapat hiputermia dan skelerema. Umumnya, kalu bayi itu not doing well, kemungkinan besar ia menderita infeksi.

Jenis infeksi, diagnosis dan pengobatan
Infeksi pada neonatus dapat dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu infeksi berat (major infection) dan infeksi ringan (minor infection).

Infeksi berat
Dalam golongan Infeksi berat termasuk sifilis kongenita, sepsis neonatorum, meningitis, pneumonia, diarea epidemik, pielonefritis, ostetis akuta, dan tetanus neonatorum.

1.      Sifilis kongenita
Infeksi dengan Treponema pallidum (Spirochaeta pallida), penyebab sifilis biasanya terjadi dalam masa antenatal. Sefilis pada wanita dalam kehamilan dibahas dalam bab lain.
Akibat sefilisibu terhadap janin tergantung dari (1) beratnya infeksi pada ibu; (2) bilamana pada masa kehamilan tejadi infeksi; dan (3) pengobatan yang diberikan kepada ibu selama hamil. Infeksi pada janin baru timbul sesudah hamilnya lewat 14 minggu oleh karena spirokaeta tidak dapat melintas lapisan sel Langhans pada plasenta muda. Janin yang terkena infeksi dapat lahir mati dalam keadaan maserasi, ia dapat dilahirkan dengan gejala-gejala sefilis kongenita, atau gejala-gejala itu dapat timbul di kemudian. Pada anak yang lahi-mati, spirokaeta dapat di temukan pada hepar, ginjal, tulang-tulang dan kadang-kadang pada paru-paru. Bayi dengan sefilis kongenita sering kali menderita BBLR dan kulit telapak tangan serta kaki menkilat menebal dan mudah terlepas.
Gambaran Klinik
Bayi dapat menunjukkan gelembung-gelembung dan pustula yang di lingkari dasar merah tua. Kelainan-kelainan itu yang sering di temukan sekitar mulut, hidung, genitalia eksterna, anus, dan telapak tangan serta kaki. Haper membesar pada tulang-tulang panjang dengan pemeriksaan radiologik ditemukan ostekondristis. Pernapasan melalui hidung seringkali tergangu karena tertutup oleh sekret. Bayi dengan sefilis kongenita tidak dapat tumbuh dengan baik.
Diagnosis
Perubahan pada kulit, gangguan pernapasn melalui hidung, pembesaran hepar, hasil pemeriksaan radiologik pada tulang-tulang panjang, dan reaksi serologik yang positif dapat menentukan diagnosis. Ditemukannya spirokaeta pallida dalam sekret pada kelainan-kelainan kulit nicaya memastikan diagnosis.
Pengobatan
Penangan yang terbaik ialah pencegahan. Apabila wanita yang hamil dengan sefilis dafat disembuhkan sebelum kehamilannya mencapai 14 minggu, janin dapat dibebaskan sama sekali dari penyakit itu. Apabila ibu masih di obati lewat waktu itu, janin yang mungkin kena infeksi sudah sembuh pada waktu dilahirkan, mungkin pula belumsembuh.
Bayi yang lahir dengan gejala-gejala sefilis kongenita perlu segera diobati. Pengobatan terdiri dari atas pemberian Prokain-penisilin 150.000 sampai 300.000 satuan sehari selama2 minggu.
Apabila ibu sebelum bersalin belum mendapatkan pengobatan cukup, sebaiknya bayinya diberikan pengobatan pula. Apabila ibu sudah diobati dengan sempurna sebelum bersalin, maka anaknya tidak perlu diobati lagi jika ia tidak menunjukkan gejala-gejala sefilis kongenita dan reaksi serologiknya negatif. Semua anak yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita sefilis perlu di awasi selama 2 tahun.
  
2.      Sepsisneonatorum
Gejala sepilis pada neonatus telah diterangkan pada pembicaraan diagnosis infeksi pada neo natus. Dengan menumukan gejala-gejala tersebut, apalagi dengan anamnesis infeksi antenatal atau infeksi intranatal, tindakan kita adalah :
a)      Memberikan antibiotika dengan spektrum luas sambil enunggu biakan darah dan  resistence test. Antibiotika yang dapat diberikan ialah Ampisillin dengan dosis 100mg/kg berat badan, atau kombinasi Ampisilin dengan kanamnisin 15 mg/kg berat-badan, atau Gentamisin 2 mg/kg berat-badan. Sesudah ada hasil biakan, dapat diberi obat yang terarah. Kalau obat ini tidak ada, dapat dicoba dengan Penisillin 50.000 unit/kg berat-badan, atau Kloromisetin dengan dosis yang tidak melebihi 50 mg/kg berat-badan;
Resistensi kuman terhadap Ampisillin dan Gentamisin akhir-akhir ini makin menonjol. Bila mungkin sebagai penggantinya dioberikan sefalosporin generasi ketiga dengan dosis 100 mg/kg berat-badan per 24 jam dibagi dalam dua dosis;
b)      Pemeriksaan laboratorium rutin;
c)      Biakan darah dan resistance test;
d)     Fungsilumbal, biakan dilakukan biakan tinja dan air kencing.

3.      Meningitis
Meningitis biasanya didahului oleh sepsis. Karena itu, pada setiap persangkaan sepsis harus dilakukan fungsi lumbal. Dalam melakukan fungsi lumbal penilaian likuor serebrospinalis harus hati-hati, karena pada umumnya likuor serebrospinalis pada neonatus sifatnya xantokrom, ada pleiositosis, dan reaksi Nonne dan Pandy positif, Penyelidikan di Rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo oleh Monintja dkk menunjukan bahwa jumlah sel yang normal pada neonatus dapat mencapai 20 per mm3. Jadi, kalau pada pemeriksaan likuor jumlah sel lebih dari 20 per mm3, maka hal ini membantu diagnosis meningitis. Meningitis pada neonatus pada umumnya bersifat purulenta. Etiologi terutama ialah Escherichia coli, pneumokokkus, stafilokokkus, dan Streptococcus haemoliticus dan Salmonelosis.
Mula-mula terdapat gejala-gejala seperti pada sepsis yang kemudian dapat disertai dengan kejang, fontanel menonjol, kuduk kaku, dan opistotonus. Kuduk kaku tidak seberapa sering ditemukan pada neonatus.
Diagnosis dapat dibuat dengan anemnesis kehamilan dan partus dengan kemungkinan terjadinya infeksi antenatal, internatal atau postnatal, tanda-tanda klinik, pungsi lumbal, dan pemeriksaan likuor serebrospinalis. Pengobatan sama dengan pengobatan pada sepsis neonatorum, sebagai komplikasi dapat terjadi ventrikulitis, subdural effusion, hiderosefalus, dan gejala sisa neurologik.



4.      Pneumonia kongenital
Infeksi biasanya terjadi intranatal karena hirupan likuor amnii yang septik, gejala pada waktu lahir sangat menyerupai asfiksia neonatorum, penyakit membrana hialin, atau perdarahan intraknial. Diagnosis yang tepat memang sulit. Penting sekali untuk meneliti apakah ada kemungkinan infeksi.
Pneumonia kongenital harus dicurigai kalaw ketuban pecah lama, air ketuban keruh serta berba, dan terdapat kesulitan pernafasan pada saat-saat neonatus itu lahir. Tanda-tanda klinik pada pemeriksaan paru, misalnya ronki, tidak selamanya ada. Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan radiolologik toraks, yang harus segera dilakukan.
Resusitasi yang baik segera setelah neonatus lahir harus diselenggarakan. Suhu di[pertahaknan agar tidak terjadi hiportemia antibiotika spektrum luas , misalnnya ampisillin 100 mg/kg berat-badan bersama dengan Kloksasillin 50 mg/kg berat-bada, atau kombinasi Ampisillin 100 mg/kg berat-badan dan Gentamisin 2 mg/kg berat-badan secara parenteral diberikan. Kalau obat-obat ini tidak ada, dapat dicoba Penisillin 50.000 unit/kg berat-badan bersama dengan Kloramfenikol dengan dosis tidak melebihi 50 mg/kg berat-badan. Pada dasarnya antibiotika harus disesuaikandengan pola resistensi kuman setempat.

5.      Pneumonia aspirasi
Penyakit ini merupakan sebab utama kematian bayi BBLR. Hal ini disebabkan karena pada saat pemberiaan makanan per os dimulai, terjadi aspirasi karena refleks menelan dan refleks batuk belum sempurna. Pneumonia aspirasi ini harus dicurigai bila bayi BBLR tiba-tiba menunjukkan gejala letargia, anoreksia, berat-badan tiba-tiba turun, dan kalau terdapat serangan apnea. Diagnosis dapat dibuat dengan pemeriksaan radiologik toraks.

6.      Pneumonia karena airborn infection
Patogenesis penyakit ini sama dengan patogenesis bronkopneumonia pada bayi yang lebih tua. Baiasanya infeksi terjadi karena berhubungan dengan orang dewasa yang menderita infeksi saluran pernafasan. Penyebabnya biasanya pneumokokkus, Haemophilus influenzae, atau virus. Selain itu dapat juga disebabkan oleh E. Colienterokkoks, proteusdan pseudomonas.
Jalannya penyakit biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan bagi atas dengan rhinitis dan seterusnya. Kemudian terjadi dispnea, pernafasan kuping, hidung, sianosis, dan batuk. Pada pemeriksaan radiologik dapat terlihat bayangan infiltrasi paru-paru. Pengobatan sama dengan bronkopneumoniap yang lain.

7.      Diarea epidermik
Infeksi ini terutama terjadi pada neonatus yang lahir di rumah sakit. Mula-mula terdapat infeksi stafilokkus pada suatu tempat dibadan, kemudian terjadi penyebaran ke paru-paru , sehingga terjadi Pneumonia atau piotoraks, proses ini terjadi dengan cepat dengan gejala sesak napas, dan sianosis; keadaan bayi menjadi buruk, pengebatan terdiri atas pemberian antibiotika yang efektif terhadap stafilokkus, misalnya kloksasillin dan sefalosporin. Pengobatan lai sesuai dengan pengobatan bronkopneumonia yang biasa.

8.      Diarea epidemik
1)   Gastro-enterritis pada bayi seringkali menyebabkan penyebaran dengan mortalitas yang tinggi. Peneyebabnya ialah E. Coli yang bersifat patogen atau lazim disebut Entero- Pathogenic Escherischia coli (EPEC).  Kuman ini mempunyai serotipe yang sangat bervariasi. Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta umumnya penyebaran disebabkan oleh OIIIB4H2 dan 086B7.
Patogenesis
EPEC merupakan sebagai dari keluarga E. coli  yang merupakan penghuni normal usus halus manusia. Kemudian, sebagian E.coli  ini dapat menyebabkan diarea pada manusia dan hewan. Pada bayi, EPEC ternyata dapat menyebabkan wabah diarea dengan mortalitas yang tinggi. Karena itu, jenis-jenis E.coli yang dapat menyebabkan diarea disebut EPEC.  Kuman EPEC ini tidak menyerang mukosa usus, hanya bersarang dalam lumen usus. Diarea disebabkan oleh toksin yang dilepaskan oleh kuman ini dan menyebabkan sekresi usus, dapat terjadi dehidrasidan asidosis. Selain itu, diarea karena EPEC seringkali disertai dengan mengurangnya produksi dan aktivitas disakaridase, terutama laktase. Hal ini meningkatkan diarea kalu diberikan susu dengan kadar laktosa yang tinggi. Keadaan ini sangat mempengaruhi terapi dietetik panyakit ini, yaitu kita harus memakai susu yang rendah kadar laktosanya.
     Akibat defisiensi laktase, laktosa tidak dihancurkan dan tidak diserap. Karena itu, laktose terus ke kolon dan akibat fermentasi menjadi asam organik. Hal ini menambah osmotik load kolon yang kemudian menarik air lagi ke dalam lumen dan menyebabkan cairan feses bertambah.
     Pierce (1971) menyatakan bahwa pengetahuan tentang mekanisme terjadinya diarea pada bayi oleh EPEC mempunyai aspek-aspek terapeutik, yaitu :
a)      Antibiotika tidak selalu efektif pada pengobatan diarea disebabkan oleh E.coli patogen karena khasiat antibiotika terhadap setiap serotine koli sangat bervariasi:
b)      Larutan glukosa dan elektrolit dapat diberikan secara oral untuk mengobati dehidrasi yang ringan karena tidak terdapat gangguan penyerapan glukosa;
c)      Pembatasan diit tidak perlu untuk semua makanan, tetapi cukup untuk laktosa; dalam hal ini untuk pemberian makanan harus dipakai susu rendah laktosa.
Gambaran klinik
Penyakit ini dimulai dengan letargia dan anoreksia; berat-badan turun dan kemudian terdapat diarea serta muntah. Tinja biasanya banyak, cair, berwarna hijau atau kuning. Yang agak khas adalah baunya seperti bau sperma. Lama-kelamaan dapat terjadi dehidrasi, asidosis, dan syok. Keadaan yang berat ini dapat terjadi dengan cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam saja.
Pengobatan
Pemberian makanan per os harus dihentikan untuk 6 sampai 24 jam sesuai dengan beratnya diarea. Kalau tidak terdapat dehidrasi selama ini, cukup diberikan glukosa 5% dan NaC1 0,25 N per os dalam perbandingan yang sama. Banyaknya cairan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan badan ditambah dengan cairan yang hilang karena diarea. Kalau terdapat dehidrasi, pemberian cairan perlu ditambah. Bilamana dehidrasi telah diatasi, dapat dimulai makanan per os dengan pemberian susu. Dalam hal ini sebaiknya dipakai susu yang rendah kadar laktosanya.
     Antibiotika dapat diberikan mula-mula berupa Neomisin 50 mg/kg berta-badan sambil menunggu biakan tinja dan sensitivity test; selain itu, dapat dicoba Sefalosporin 50 mg/kg berat-badan. Sesudah ada hasil biakan dan resistance test, dapat diberikan antibiotika yang sesuai.  
2)      Salmonelosis
Salmonelosis mula-mula dikenal pada tahun 1907 waktu Ghon pertama-tama melaporkan sepsis neonatal oleh Salmonnela. Pada mulanya di RSCM Jakarta penyakit ini sering dilaporkan sebagai enteritis oleh Salmonela para-typhi yang dapat menyebabkan sepsis dan meningitis. Dengan majunya perkembangan mikrobiologi ternyata Salmonelosis ini disebabkan oleh beberapa jenis antara lain Salmonela Javiana, Salmonela Havana, Salmonela Oranienburg, Salmonela Senftenberg dan lain-lain. Ternyata letusan diarea epidemik yang terjadi di bangsal bayi baru lahir RSCM yang pada mulanya disangka disebabkan oleh EPEC terbukti disebabkan oleh spesies Salmonela. Sampai saat ini ada dua letusan diarea epidemik dengan angka kematian yang tinggi oleh spesies Salmonela. Penyakit ini dimulai dengan diarea, disertai panas dan ikterus kemudian terjadi sepsis dan meningitis.
Patofisiologi
Mula-mula kuman menyerang traktus digestivus pada usus halus yang mengenai bagian submukosa. Sesudah itu terjadi penyebaran hematogen yang menyebabkan terjadinya sepsis dan meningitis.
Gejala-gejala klinis
Gejala utama ialah diarea yang frekuen, tinja berwarna benih dan cair, dapat disertai dengan linder. Biasanya tidak ada darah. Diareanya  bersifat akut dan bayi dapat jatuh dalam dehidrasi dan asidosis. Gejala lain ialah suhu badan yang meningkat, ikterus, kesulitan pernapasan, konvulsi dan letargi.
Pengobatan
Tahap pertama pengobatan ialah memberikan cairan dan elektrolit untuk mengatasi dehidrasi dan asidosis. Antibiotika perlu segera diberikan karena kuman ini toksis dan mudah menyebar secara hematogen. Antibiotika harus sesuai dengan pemantauan resistensi kuman; pada saat ini obat yang efektif adalah Kloromisetin dengan dosis 50 mg/kg berat-badan, Sefalosporin generasi ketiga misalnya Sefatriaxone dan Amikasin. Ko-trimoksasol, cukup efektif tetapi tidak dapat diberikan pada bayi kurang bulan, neonatus di bawah 2 minggu, dan bayi yang menderita ikterus.



Prognosis
Bila pengobatan terlambat maka angka kematian dapat mencapai 50 %, karena kuman ini cepat menyebar menjadi sepsis, Setiap diare pada neonatus yang disertai dengan panas dan ikterus maka Salmonelosis harus dipikirkan.
9.      Pielonefritis
Bayi yang menderita pielonefritis biasanya menunjuk-kan gejala deman, tidak mau minum, muntah, pucat, dan berta badan turun.
     Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan air kencing. Pada neonatus jumlah sel dalam air kencing menjadi berarti kalau lebih dari 15 per mm³. Pengobatan ialah dengan pemberian Sefalosporin 50 mg/kg berta-badan, sambil menunggu hasil biakan air kencing dan sensitivity test.
10.  Osteitis akuta
Penyakit ini biasanya diakibatkan oleh metastasis sarang infeksi stafilokokkus di tempat ini. Penyebab utama ialah Staphylococcus aureus. Suhu biasanya meningkat, dan bayi tampak sakit berat. Lokal terdapat pembengkakan dan ia menangis kalau bagian yang terkena digerakkan. Keadaan ini dapat ditemukan pada beberapa tempat, terutama pada maksilla dan pelvis.
     Pengobatan ialah dengan pemberian antibiotika, yaitu Kloksasillin 50 mg/kg berat-badan secara parenteral. Pengobatan lokal ialah pengisapan nanah, jika ada.
11.  Tetanus neonatorum
Etiologi
Penyebab penyakit ini ialah Clostridium tetani. Kuman ini bersifat anaerobik dan mengeluarkan eksotoksin yang neurotropik.
Epidemiologi
Clostridium tetani terdapat di tanah dan traktus digestivus manusia serta hewan.
Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerobik.
     Pada bayi penyakit ini ditularkan biasanya melalui tali-pusar, yaitu karena pemotongan tali-pusat dengan alat yang tidak steril. Selain itu, infeksi dapat juga melalui pemakaian obat, bubuk, atau daun-daunan yang digunakan dalam perawatan tali-pusar.
     Penyakit ini masih banyak terdapat di Indonesia dan negara-negara lain yang sedang berkembang. Mortalitasnya sangat tinggi karena biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat. Penanganan yang sempurna memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas. Angka kematian tetanus neonatorum di rumah sakit-rumah sakit besar di Indonesia dapat mencapai 80 %.
Tingginya angka kematian ini sangat bervariasi dan sangat tergantung pada saat pengobatan dimuali serta pada fasilitas dan tenaga perawatan yang ada di rumah sakit.
Patologi
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, pada sumsum tulang belakang dan terutama pada nukleus motorik. Kematian disebabkan oleh asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu kematian dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernapasan dan peredaran darah. Sebab kematian yang lain ialah pneumonia aspirasi dan sepsis. Kedua sebab yang terakhisr ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian tetanus neonatorum di Indonesia.
Gambaran klinik   
Masa inkubasi biasanya 3 sampai 10 hari. Gejala permulaan ialah kesulitan minum karena terjadinya trismus. Mulut mencucu seperti ikan (karpermond), sehingga bayi tidak dapt minum dengan baik. Kemudian, dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang umum. Leher menjadi kaku dan dapat terjadi opistotonus. Dinding abdomen kaku, mengeras, dan kalau terdapat kejang otot pernapasan, dapat terjadi sianosis.  Suhu dapat meningkat, Naiknya suhu ini mempunyai prognosis yang tidak baik.   
Diagnosis
Diagnosis tetanus neonatorum tidak susah. Trismus, kejang umum, dan mengkakunya otot-otot merupakan gejala utama tetanus neonatorum. Kejang dan mengkakunya otot-otot dapat pula ditemukan misalnya pada kernicterus, hipokelsimia, meningitis, trauma lahir, dan lain-lain. Gejala trimus biasanya hanya terdapat pada tetanus.
Pengobatan
Pengobatan terutama untuk memperbaiki keadaan umum, menghilangkan kejang, mengikat toksin yang masih beredar, an pemberian antibiotika terhadap infeksi.
a.       Perawatan
1)      Bayi sebaiknya dirawat oleh perawat yang cakap dan berpengalaman. Sebaiknya disediakan 1 perawat untuk seorang bayi. Bayi harus dirawat ditempat yang tenang dengan penerangan dikurangi agar rangsangan bagi timbulnya kejang kurang.
2)      Saluran pernafasan dijaga supaya selalu bersih.
3)      Harus tersedia zat asam. Zat asam diberikan kalau terdapat sianosis atau serangan apnea, dan pada waktu ada kejang.
4)      Pemberian makanan harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet.
5)      Kalau pemberian makanan per os tidak mungkin, maka diberi makanan atau cairan intravena.

b.      Mengatasi kejang
Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan atau pemberian obat antikejang. Obat yang dapat dipakai ialah kombinasi Fenobarbital dan Largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama Luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Luminal danDiazepam dan dosis ­½ mg/kg berat-badan. Obat anti-kejang yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat rektum.

c.       Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi A.T.S. (antitetanus serum) dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari.

d.      Pemberian antibiotika
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan Penisilin 200.000 satuan setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun.

e.       Pencegahan
Pencegahan yang paling baik ialah pemotongan dan perawatan tali-pusat yang baik; harus digunakan bahan-bahan dan lat-alat yang steril. Pemberian vaksinasi dengan suntikan toksoid pada ibu hamil dalam triwulan terakhir dapat memberi proteksi pada bayi.

Infeksi ringan
Termasuk golongan infeksi ringan ialah infeksi pada kulit, oftalmia neonatorum, infekjsi pusat, dan moniliasis.

1.      Pemfigu neonatorum
Biasanya pemfigus neonatorum berupa impetigo bullosa. Infeksi ini disebabkan oleh stafilokokkus. Mula-mula pemfigus timbul sebagai gelembung yang jernih, kemudian berisi nanah dan dikelilingi daerah yang kemerahan.
Gelembung-gelembung ini dapat terjadi berlipat ganda dan menyebabkan gejala-gejala umum yang berat. Kadang-kadang kulit terkelupas dan menjadi dermatitis eksfoliativa (Ritter’s disease).
Pemfigus neonatorum dapat menjadi suau wabah dalam suatu bangsal bayi. Penderita harus di asingkan dan pada perawatan harus di perhatikan syarat-syrat sepsis. Pengobatan lokal terdiri atas pencucian dengan larutan permanganas kalikus. Antibiotika dapat di berikan berupa Kloksasillin 50mg/kg berat-berat badan jika terdapat gejala-gejala umum. Gelembung-gelembung dikeluarkan isinya dan luka pada kulit yang ringan cukup diberi pengobatan lokal dengan salep neomisin Basitrasin.

2.      Oftalmia neonatorum
Blenorea atau konjungtivitis gonoroika disebabkan oleh infeksi gonokokkus (Neisseria gonorrboeae) pada konjungtiva pada waktu bayi melewati jalan-lahir. Selain itu, penyakit dapat ditularkan melaluin tangan perawat yang di kotori dengan kuman ini.
Konjuntiva mula-mula hiperemik; terhadap edama palpebra, bulu mata lekat karena nanah. Penyakit ini dapat bersifat bilateral. Pada tingkat selanjutnya penyakit dapat menyerang kornea dan dapat menyebabkan buta.
Penderita harus diasingkan dan sebagai pengobatan lokal dapat diberi salep mata yang mengandung Neomisin Basistrasin, Kloramfenikol, atau Penisillin. Kadang-kadangperlu diberi antibiotik sebagai pengobatan umum.
Setiap bayi dengan radang konjuntiva harus diperiksa sekritmatanya. Dengan pewarnaan Gram dapat ditemukan gonokokkus sebagai diplokokkus yang Gram-negatifterletak di dalam dan di luar sel.
Pencegahan dengan cara Creade sampai sekarang masih diakui sebagai cara yang terbaik. Segera sesudah bayi lahir, mata di tetesi larutan nitras argenti 1%; obat ini harus sering diganti supaya tetap baru. Kalau terdapat iritasi, mata dapat dibilas dengan garam fisiologik. Akhir-akhir ini untuk mengurangi kecelakaan-kecelakaan akibat nitras argenti, dipakai obat tetes antibiotika.

3.      Infeksi pusat
Ujung pusat seringkali kena infeksi staphylococcus aureus. Tempat itu mengeluarkan nanah dan sekitarnya meraqh serta ada edama. Pada keadaan yang berat, infeksi dapat menjalar ke hepar melalui legamentum falsiformedan menyebabkan abses yang berlipat ganda.pada keadaan menahundapat terjadi granuloma pada umbilikus.
Sebagai pengobatan lokal diberi salep yang mengandung neomisin dan Basitrasin. Selain itu dapet juga dipake salep Gentaminisin. Kalu terdapat granuloma, dapat diolesi dengan larutan nitras argenti3%.
Pencegahan daat dilakukan dengan perawatan tali pusat yang baik. Jika ditempat perawatan bayi banyak terdapat infeksi dengan stafilokokkus, maka perawatan tali pusat dapat dilakukan sebagai berikut : setelah tali pusat dipotong, ujung tali pusat dioles dengan tingtura jodii. Kemudian, tangkai tali pusat, dasar tali pusat dan kulit sekeliling tali pusat dapat dioles dengan triple-dye. Ini ialah campuran  brillian green 2,29 g, proflavine helmisulfate 1,14 g, dan crystal violet 2,29 g dalam satu liter air. Sekiranya obat ini tidak ada, dapat digantikan dengan merkurokrom. Tali pusat cukup di tutup dengan kasa sterildan diganti setiap hari.

4.      Moniliasis
Aldida alblikans merupakan jamur yang sering ditemukan pada bayi. Biasanya jamur tidak menimbulkan gejala bersifat saprofit. Dalam keadaan tertentu, bila daya tahan bayi turun, atau pada penggunaan antibiotika dan/atau kortikosteroid yang lama dapat tejadi penumbuhan jamaur ini secara cepat dan menimbulkan infeksi berupa stomatitis (oral thrush), dermatitis, bahkan infeksi parentral.
Infeksi mula-mula terdapat di mulut, kemudian di esofagus dan di traktus digestivus yang menyebabkan diarea. Pada bayi yang mendapatkan makanan parenteral yang lama, sering terjadi kematian karena infeksi kandida parenteral (sepsis).
Stomatitis biasanya mulai sebagai bercak-bercak putih pada lidah, bibir, dan mukosa pada mulut. Hal ini dapat di bedakan dengan sisa-sisa susu karena susah dilepaskan dari dasarnya. Diagnosis dapat dibuat dengan membuat sediaan apus yang diwarnai dengan methylene blue. Dalam sediaan akan terlihat mesilium dan spora yang khas. Sebagai pengobatan lokal diberi gentian violet 0,5 % yang dioleskan pada lidah dan mukosa mulut. Obat yang lebih baik, tetapi lebih mahal, ialah Mycostatin (Nyastatir) oral solutin  dengan dosis 3 kali 100.000 satuan setiap hari. Dapat juga di coba Amfetarisin (Fungilin) selama satu minggu.

Pencegahan infeksi pada bayi
Infeksi pada bayi dpat merupakan penyakit yang berat dan sangat sulit diobati. Infeksi itu tidak asaja berbahay untuk bayi yang terkena infeksi. Tetapi juga untuk bayi-bayi yang dirawat bersama karena kemungkinan cross-infection. Oleh sebab itu, lebih penting mencegah terjadinya infeksi daripada mengobati bayi yang dapat infeksi.
Cara pencegahan infeksi pada neonatus dibagi sebagi berikut : cara umum dan cara khusus.

1.    Cara umum
a.    Pencegahan infeksi bayi sudah harus dimulai dalam masa antenetal. Infeksi ibu harus diobatidengan baik, misalnya infeksi umum, lokorea, dan lain-lain. Dalam kamar bersalin harus ada pemisah yang sempurna antara bagian yang septi dan bagian yang aseptik. Pemisahan ini mencakup ruangan, tenaga perawatan, alat kedokteran, dan alat perawatan. Ibu yang akan melahirkan sebelum masuk kamar bersalin sebaiknya dimandikan dahuludan memakai baju khusus untuk kamar besalin. Pada kelahiran bayi harus diberi pertolongan secara aseptik. Suasana kamar bersalin harus sama dengan kamar operasi. Alat yang digunakan untuk resusitasi haruis steril.
b.    Dalam bangsal bayipun harus ada pemisah yang sempurna antara bayi yang baru lahir dengan partus aseptik. Pemisahan ini harus mencakup tenaga, fasiltas perawatan, dan alat-alat. Selain itu, harus terdapat kamr isolasi untuk bayi yang perlu diasingkan. Perawat harus mendapat pendidikan khusus dan mutu perawatannya harus lebih tinggi daripada yang merawat bayi lebih tua. Apalagi kalau bangsal perawatan bayi itu merupakjan suatu special care nursery. Sebelum dan sesudah memegang bayi perawat harus mencuci tangan. Mencuci tangan sebaiknya memakai sabun antiseptik atau sabun biasa asal saja cukup lama (1 menit). Dalam ruang petugas harus memakai jubah steril, sandal khusus; dalam ruangan tidak boleh banyak bicara. Kalau perawat atau dokter menderita penyakit saluran pernafasan bagian atas, ia tidak boleh masuk ruangan.
Dapur susu harus bersih dan cara mencampur susu harus aseptik. Pengunjung yang mau melihat bayi melalui jendela kaca. Air susu ibu yang dipompa sebelum diberikan kepada bayi harus dipasteurisasi. Setiap bayi harus mempunyai tempat sendiri untuk pakaian, termometer obat-obat, kasa, dan lain-lain. Inkubator harus selalu dibersihkan. Lantai ruangan setiap hari dibersihkan benar-benar, dan setiap minggu dicuci dengan menggunakan antiseptikum.

2.    Cara khusus
Pemberian antibiotika hanya dibolehkan untuk tujuan dan indikasi yang jelas. Dalam beberapa hal, misalnya ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam), air ketuban keruh, infeksi umum pada ibu, partus lama dengan banyak tindakan intravaginal, resusitasi yang berat, dan sebagainya sering timbul keraguan-keraguan apakah akan diberi antibiotika secara profilaktik. Disatu pihak penggunaan antibiotika yang banyak dan tidak terarah dapat menyebabkan timbulnya strain kuman yang bertahan dan penumbuhan fungus yang berlebihan, misalnya Candidas albicans. Sebaliknya, pemberian antibiotika terlambat pada penyakit infeksi neonatus, sering mengakibatkan kematian. Berdasarkan hal-hal di atas dapat dipakai kebijaksanaan sebagai berikut :
a)    Kalau kemampun pengamatan klinik dan monitoring labotarium cukup baik, sebaiknya tidak perlu diberi antibiotika sebagai pencegahan; antibiotika baru diberikan kalau terdapat tanda-tanda infeksi;
b)   Kalau kemampuan tersebut tidak ada, maka dapat dipertanggungjawabkan untuk memberi antibiotika sebagai pencegahan berupa Ampisillin 100 mg/kg berat-badan dan kamnisin 15 mg/kg berat-badan selama 3 hari; sebagai pengganti Kanamisin dapat dipakai Gentamisin.
Selain hal-hal yang telah diterangkan di atas, petugas yang merupakan carrier kuman tertentu, misalnya E. coli patogen, harus hati-hati dalam menjalankan tugas perawatan. Masih merupakan persoalan yang belum terpecahkan apakan carrier ini harus dilarang bekerja di tempat perawatan bayi atau harus diobati dahulu. Namun, selama syarat aseptik dan antiseptik diperhatikan, kemungkinan bahwa petugas tersebut menularkan penyakit berkurang.

3.    Perawatan gabung (rooming in)
Suatu cara yang tepat untuk mencegah infeksi adalah perawatan gabung. Perawatan gabung berarti ibu dan bayi dirawat bersama dalam satu ruangan yang tidak terpisah. Manfaat perawatan gabung ialah : 1) infeksi silang dibatasi; 2) promosi penggunaan air susu ibu; 3) ibu dapat segera dilatih keterampilannya mengurus bayi; 4) hubungan psikologik ibu dan bayi yang lebih baik; 5) membantu tenaga perawatan.
Seringkali timbul pertanyaan apakah dengan adanya kunjungan keluarga tidak menambah infeksi? Ternyata penelitian di Indonesia dan pengalaman di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta infeksi silang lebih banayk terdapat pada bayi yang dirawat terpisah. Pada rooming in infeksi silang dapat dibatasi lagi dengan membatasi pengunjuangan yaitu mereka yang menderita demam, batuk pilek dan diare tidak boleh masuk kamar ibu dan bayi. Demikian pula sebaliknya pengunjung tidak boleh memegang bayi.
Walaupun perawatan gabung ini banyak kebaikannya, bayi yang tidak dapat dirawat secara ini adalah :
1.    Bayi yang lahir dengan asfiksia neonatal.
2.    Bayi dengan kesulitan pernafasan.
3.    Bayi dengan cacat bawaan.
4.    Bayi yang lahir dengan partus dengan tindakan.
5.    Bayi yang menderita diabetes.
6.    Bayi yang berat lahirnya kurtang dari 2.250 gram.
7.    Bayi yang masa kehamilannya kurang dari 37 minggu.
8.    Bayi yang sakit.
9.    Ibu yang sakit.
     Penyimpangan dari kebijaksanaan ini tentu saja dapat dilaksanakan asal ada pengawasan ketat dari dokter.
     Dalam perawatan gabung ini sang ibu harus diberi intruksi pengamatan gejala-gejala yang berbahaya yaitu:
1.      Kesulitan pernafasan, frekuensi pernafasan lebih dari 60 menit.
2.      Perdarahan.
3.       Muntah.
4.      Sianosis.
5.      Kejang atau tremor.
6.      Ikterus.
7.      Perut kembung.
8.      Diare.
9.      Tidak mau menetek (minum).
10.  Tangisan bayi yang lemah atau terlalu keras.
Bila terdapat gejala ini harus segera dilaporkan pada perawat atau dokter.